News

Keberadaan Gembleng Waterfall Membawa Dampak Positif Terhadap Petani Arak Tradisional, Penjualan Makin Meningkat

 Senin, 13 November 2023

Petani arak tradisional

Newsyess.com, Karangasem. 


Harapkan Pemerintah Bisa Membantu Dalam Hal Pemasaran 

Karangasem, Newsyess.com - 
Keberadaan Wisata Air Terjun Gembleng Waterfall yang berbasikan alam membawa dampak positif terhadap usaha pelaku UMKM, khususnya petani arak tradisional yang ada di Desa Adat Telunwayah Sidemen, Karangasem. Salah satu petani arak yang tempat produksi arak nya ada di dekat Gembleng Waterfall sangat merasakan imbasnya. Dimana penjualan arak tradisionalnya meningkat.


Salah satu petani arak Tradisional Desa Adat, Telunwayah, I Wayan Jana, menyatakan wisatawan yang datang ke Gembleng disajikan tata cara membuat arak. Dimulai dari mengiris kemudian ditampung di bak penampungan berupa gentong. "Tiga hari, lau dikasih sambuk agar wayah. Kemudian dibawa ke tempat pembakaran selama 2 jam," ujar dia ketika ditemui Newsyess disela-sela pembuatan arak tradisional di desa adat Telunwayah, Karangasem pada, Senin (13/11/2023).

Selanjutnya, uap arak ditampung dan menjadi arak. "Kami pakai kayu bakar, kualitas arak berbeda rasanya. Seperti memasak nasi, pakai kayu bakar lebih nyangluh. Pernah kami pakai gas, namun hasilnya kurang. Kebetulan ada kayu bakar di alam," jelas dia.
Dikatakan kadar arak mencapai 15-20 persen per botol.
Diakui, ada kekhawatiran peredaran arak gula. Itu bisa dibedakan dari rasa dan bau. "Sebagai peminum, arak yang baik, dari nyuh. Peminum bisa membedakan," jelas dia.
Untuk kesehatan, arak ini untuk stamina. "Sebelum ke sawah minum 1 sloki arak biar hangat. Arak kami murni ini warisan nenek moyang," ujar dia.
Dengan dibuatkan Perda Arak, pihaknya merasa gembira. "Sejak perda diberlakukan ada peningkatan penjualan, namun kami bersaing," jelas dia.
Lebih lanjut dikatakan, wisatawan di Gembleng diberikan pilihan bahwa ada alam waterfall hingga dilihat penyajian pembuatan arak. "Kami harap ke pemerintah biar dibantu pemasaran," harap dia.
Sementara itu, Ketua Pengelola Gembleng Waterfall, I Komang Budiarta, menambahkan secara pribadi arak supaya bisa dilestarikan sinergi dengan pariwisata. "Supaya waterfall ada ikon dan bisa mempromosikan arak. Untuk menjaga peninggalan nenek moyang," jelas dia.
Selaku pelaku wisata, pihaknya mendukung proses mencari bahan baku, pengolahan menjadi arak. "Saya sangat mendukung karena tradisional. Kami tidak setuju pakai teknologi. Karena bisa terkontaminasi dengan alat canggih. Menurut keyakinan kami, dari kualitas, rasa akan berbeda," jelas dia.
Diakui, mencari bahan baku arak kelapa lebih sulit, dibandingkan arak pesaing, yakni arak gula. 
Maka tak ayal daya jual arak kelapa mahal. "Pertama resiko mencari kelapa. Itu menyebabkan mahal. Proses penurunan bahan baku juga sulit dan proses sulit. Itulah arak tradisional mahal," jelas dia.
Namun untuk fermentasi cukup mudah, tinggal beli gula. "Kami tersaingi oleh arak gula dari sisi harga. Kami gak bisa jual murah karena proses sulit," ujar dia.
Harapan ke depan, agar pemerintah desa ikut mempertahankan tradisi dan budaya. "Terutama memperhatikan petani arak tradisional," tutup dia. (Ngakan Suardika)


TAGS :