Tokoh
Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra Oleh: I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H (Penyuluh Agama Kemenag Kab. Buleleng)
Rabu, 12 Februari 2025
Makna Hari suci Pagerwesi
Pagerwesi Nemu Purnama: Memuja Keagungan Guru di Payogan Sang Hyang Candra
Oleh: I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H (Penyuluh Agama Kemenag Kab. Buleleng)
Buleleng | Newsyess.com - 11 Februari 2024 - Hari suci nan luhur kembali menyapa umat Hindu pada Selasa, 12 Februari 2024. Hari Suci Pagerwesi, yang kali ini bertepatan dengan Purnama Kawulu, Sasih Kewulu, Isaka Warsa 1946, menjadi momentum sakral untuk memuja Sang Hyang Paramesti Guru, serta mempersembahkan bakti kepada Sang Hyang Candra, yang pada saat ini sedang beryoga dalam keheningan purnama.
Seperti yang termuat dalam Lontar Sundarigama, purnama dan tilem merupakan payogan atau waktu beryoga bagi Dewa Rwa Bhineda, yakni Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra. Dalam teks tersebut disebutkan:
"Mwah hana pareresiknira Sang Hyang Rwa Bhineda, makadi Sang Hyang Surya Candra, yatika nengken purnama mwang tilem, ring purnama Sang Hyang Wulan mayoga, yan ring tilem Sang Hyang Surya mayoga."
Artinya, saat Purnama adalah waktu beryoga bagi Sang Hyang Wulan (Candra), sementara saat Tilem adalah waktu beryoga bagi Sang Hyang Surya. Oleh karena itu, Pagerwesi kali ini menjadi lebih bermakna karena bertepatan dengan Hari Suci Purnama, menjadikannya saat yang sangat baik untuk memuja Sang Hyang Paramesti Guru sekaligus memuliakan Sang Hyang Candra dalam keheningan spiritual.
Makna Pagerwesi: Memagar Diri dengan Kebijaksanaan Guru
Dalam lontar yang sama, Pagerwesi dijelaskan sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pramesti Guru (Siwa), yang diiringi oleh para Dewa Nawasanga, guna menjaga keseimbangan dan keselamatan seluruh makhluk di alam semesta:
"Buda Kliwon Sinta, ngaran Pagerwesi, Sang Hyang Pramesti Guru, sira mayoga, kairing dening watek Dewata Nawasanga, ngawerdiaken uriping sarwa tumitah, tumuwuh maring bhuana kabeh."
Secara etimologis, Pagerwesi berasal dari kata Pager yang berarti pagar, dan Wesi yang berarti besi, menyiratkan makna tentang perlunya pagar yang kuat untuk melindungi diri. Dalam konteks spiritual, pagar tersebut adalah kebijaksanaan dan ajaran suci dari Guru, yang melindungi kita dari kegelapan batin dan kesombongan akibat ilmu pengetahuan, harta benda, serta kekuasaan.
Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam keangkuhan intelektual, merasa paling pintar dan mengabaikan kebijaksanaan sejati. Oleh karena itu, Pagerwesi hadir sebagai pengingat agar kita menundukkan ego, memuliakan guru, serta mengakui bahwa segala ilmu sejati berasal dari-Nya.
Dalam konsep Hindu, Guru memiliki tingkatan yang dikenal sebagai Tri Guru, yaitu:
Guru Rupaka → Orang tua, yang pertama kali mengenalkan nilai-nilai kehidupan.
Guru Pengajian → Guru di sekolah, yang memberikan ilmu pengetahuan.
Guru Wisesa → Pemerintah, yang mengatur kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, ada juga Guru Swadyaya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Sang Guru Agung yang membimbing umat manusia menuju pencerahan
Maka, Pagerwesi bukan sekadar ritual, tetapi sebuah refleksi mendalam untuk meneguhkan komitmen dalam menjaga kesucian hati, pikiran, dan tindakan, dengan bersandar pada ajaran luhur para guru.
Sarana Persembahan di Hari Pagerwesi Nemu Purnama
Dalam Lontar Sundarigama, dipaparkan tata cara persembahan pada Hari Suci Pagerwesi, yang meliputi:
Sesayut Pageh Urip – Simbol pemagaran diri dengan kebijaksanaan.
Prayascita – Penyucian diri dari segala kotoran lahir dan batin.
Segehan Lima Warna – Persembahan kepada Panca Maha Bhuta, unsur alam semesta.
Segehan Agung – Sebagai bentuk penghormatan yang lebih besar.
Yoga Samadhi – Renungan suci di tengah malam untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Sementara itu, persembahan khusus untuk Purnama, sesuai lontar yang sama, meliputi:
Canang Wangi-Wangi – Persembahan harum kepada para Dewa.
Canang Yasa – Sebagai bentuk pemujaan dan penghormatan.
Tirta Gocara – Air suci untuk penyucian diri lahir dan batin.
Hari Baik untuk Melaksanakan Yadnya
Dalam Ala Ayuning Dewasa, Buda Kliwon Sinta (Pagerwesi, 12 Februari 2024) merupakan hari yang sangat baik untuk berbagai kegiatan spiritual, antara lain:
Amertha Sari → Baik untuk melaksanakan yadnya di sanggar atau merajan.
Banyu Milir → Hari baik untuk menyadap nira dan membuat sumur.
Cintamanik → Hari baik untuk memotong rambut.
Dewasa Dasa Guna → Baik untuk mempelajari ilmu kadiatmikan dan membangun tempat suci.
Dewa Anglayang → Baik untuk melaksanakan Pitra Yadnya (pemujaan kepada leluhur).
Purnama Danta → Hari baik untuk memulai sesuatu yang baru.
Namun, ada juga hari buruk yang perlu dihindari, seperti:
Salah Wadi → Tidak baik untuk pertemuan besar.
Kala Mrtyu → Tidak baik untuk pernikahan atau wiwaha.
Baca juga:
LPD Desa Adat Peliatan, Salurkan Rp 1,45 Miliar untuk Dana Pembangunan dan Sosial di Tahun Buku 2024
Refleksi: Mengokohkan Diri dengan Kebijaksanaan Guru
Ketika Saraswati kita memuliakan ilmu, ketika Banyu Pinaruh kita menyucikan diri, ketika Soma Ribek kita bersyukur atas anugerah kehidupan, dan ketika Sabuh Emas kita memohon kemakmuran, maka Pagerwesi menjadi titik puncak refleksi, saat kita mengokohkan diri dengan kebijaksanaan Guru, agar tidak tersesat dalam kesombongan duniawi.
Baca juga:
PLN Tanggap Cepat: Sinergi Petugas dan Masyarakat Pulihkan Listrik di Tengah Cuaca Ekstrem
Seperti malam yang membutuhkan bulan untuk bercahaya, demikian pula hidup manusia memerlukan cahaya kebijaksanaan agar tidak tersesat dalam kegelapan. Pagerwesi Nemu Purnama adalah momen langka yang mengajarkan kita untuk kembali menundukkan diri, merendahkan ego, dan berserah kepada Sang Guru Sejati.
Mari jadikan hari suci ini sebagai momentum perubahan!
Dengan kesadaran baru, marilah kita menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan agar tetap berada dalam jalan dharma, sehingga kehidupan yang kita jalani menjadi berkah abadi bagi semesta.
Selamat Hari Suci Pagerwesi Nemu Purnama.
Dengan Guru, kita akan lebih terarah. Dengan kebijaksanaan, kita akan menemukan jati diri sejati. (TimNewsyess)
TAGS :