Tokoh

Tetap Setia Ngayah di Usia 77 Tahun, I Wayan Sukasana: "Selama Masih Dibutuhkan, Saya Akan Terus Mengabdi"

 Rabu, 12 Maret 2025

Ngayah tanpa batas

Newsyess.com, Bangli. 

BANGLI | Newsyess.com 12 Maret 2025 – Di usia 77 tahun, I Wayan Sukasana masih tetap aktif ngayah atau mengabdi di tiga tempat berbeda, yakni sebagai Ketua LPD (Lembaga Perkreditan Desa) Cempaga, sebagai Petengen (pengawas) di Desa Adat, serta Penyarikan (sekretaris) di Banjar Cempaga. Meski sudah memasuki usia senja, ia tetap penuh semangat dalam menjalankan tanggung jawabnya demi kepentingan masyarakat dan pelestarian adat.  

Saat ditemui Newsyess di Kantor LPD Cempaga, Bangli, Rabu (12/3), I Wayan Sukasana berbagi kisah tentang bagaimana ia membagi waktu antara berbagai tugasnya, motivasi dalam ngayah, serta rahasia kesehatannya di usia lanjut.  

Mengabdi Tanpa Lelah  

Banyak orang seusianya memilih untuk menikmati masa tua dengan beristirahat, tetapi tidak dengan Sukasana. Ia tetap setia mengabdi, bahkan di tiga tempat sekaligus.  

"Kalau memang sedang ada urusan di LPD, saya fokus di LPD. Sore harinya saya beralih ke tugas di desa adat, lalu lanjut ke Banjar Cempaga. Semua berjalan biasa saja, saya tidak merasa terbebani," ujarnya santai.  

Baginya, ngayah adalah bentuk pengabdian yang harus dilakukan dengan hati yang tulus. Ia mengaku tidak pernah merasa keberatan, justru merasa bangga dan senang bisa tetap berkontribusi untuk desa.  

"Dulu ngayah tidak dibayar sama sekali, sekarang sudah ada sedikit upah. Tapi bukan itu yang utama, yang penting saya bisa tetap bermanfaat untuk masyarakat," katanya.  

Menjaga Semangat di Usia Senja  

Ketika ditanya mengapa ia tetap aktif di usia yang sudah seharusnya menikmati masa pensiun, Sukasana menekankan bahwa mengabdi membuatnya tetap sehat, baik fisik maupun mental.  

"Kalau hanya diam di rumah, badan malah cepat lemas. Dengan bekerja dan ngayah, pikiran saya tetap aktif dan semangat tetap ada," ujarnya.  

Ia juga menambahkan bahwa menjaga kesehatan adalah kunci utama agar tetap bisa menjalankan tugasnya dengan baik.  

"Saya tidak punya pantangan khusus, tapi saya selalu minum kopi tanpa gula. Itu yang membuat saya tetap bugar," candanya sambil tertawa.  

Menurutnya, pola pikir yang positif dan tetap aktif dalam kegiatan sosial adalah rahasia panjang umur dan kebugarannya.  

Harapan untuk Generasi Muda  

Sebagai sosok yang sudah mengabdi selama puluhan tahun, Sukasana berharap generasi muda mau belajar dan melanjutkan estafet kepemimpinan di desa. Ia menilai, banyak anak muda saat ini yang kurang tertarik untuk aktif dalam organisasi desa atau adat.  

"Jangan malas. Kalau masih muda sudah malas, bagaimana nanti saat tua? Semua sudah diberikan yang sempurna, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya," katanya.  

Baginya, tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak berusaha.  

"Tidak ada orang miskin kalau dia mau berusaha. Kalau mau bekerja keras, pasti bisa hidup lebih baik," tegasnya.  

Siap Kapan Saja Mengakhiri Pengabdian  

Meski tetap semangat ngayah, Sukasana menyadari bahwa suatu saat nanti akan tiba waktunya untuk menyerahkan tugasnya kepada generasi penerus.  

"Saya siap kapan saja berhenti, asal sudah ada yang menggantikan. Kalau sudah ada regenerasi yang siap, saya akan menyerahkan tugas dengan tenang," katanya.  

Namun, hingga saat ini ia masih merasa mampu dan tetap akan mengabdi selama fisik dan pikirannya mendukung.  

"Selama saya masih sehat dan dibutuhkan, saya akan terus ngayah," tutupnya dengan penuh semangat.   

Kisah I Wayan Sukasana adalah bukti bahwa pengabdian tidak mengenal usia. Di usia 77 tahun, ia masih aktif ngayah dan menjalankan tiga tugas penting di desa. Dengan semangat yang tinggi, ia menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda, untuk terus berkontribusi dan menjaga nilai-nilai adat serta budaya Bali. (TimNewsyess)


TAGS :