Tokoh

Transformasi Ulu Petanu Waterfall: Dari Sampah Menjadi

 Sabtu, 08 Februari 2025

Transformasi Ulu Petanu Waterfall: Dari Sampah Menjadi

Newsyess.com, Gianyar. 

Kedisan, Gianyar | Newsyess.com – Mengubah sebuah tempat yang dulunya hanya dikenal sebagai tumpukan sampah menjadi destinasi wisata yang mendunia bukanlah perkara mudah. Namun, itulah yang berhasil dilakukan oleh Kepala Desa Kedisan, Dewa Ketut Raka. Dengan tekad kuat dan visi jauh ke depan, ia membangun Ulu Petanu Waterfall, sebuah keajaiban alam yang kini menjadi primadona wisata di Banjar Bayad, Desa Kedisan, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar.

Pada Jumat, 7 Februari 2025, saat ditemui tim Newsyess di kantor Desa Kedisan, Dewa Ketut Raka berbagi kisah inspiratif tentang perjuangannya membangun desa wisata yang kini diakui secara resmi dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.


“Saat pertama kali saya menjabat, saya sadar bahwa Desa Kedisan memiliki potensi besar sebagai desa wisata. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat, terutama dalam menjaga lingkungan,” ujar Dewa Ketut Raka.

Inspirasi itu datang dari kebijakan pemerintah pusat yang gencar mendorong program pembersihan lingkungan dan pelestarian alam. Saat itu, daerah Ulu Petanu tidak lebih dari sekadar gunungan sampah. Tumpukan limbah rumah tangga dan sisa material menjadikannya tempat yang kurang sedap dipandang, jauh dari gambaran destinasi wisata.

“Saya berpikir, bagaimana caranya agar masyarakat sadar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan? Maka, saya mengajak komunitas lokal, termasuk Komunitas Ayuni Ulu Pertama dan Kader Kastling, untuk bersama-sama membersihkan kawasan itu,” lanjutnya.

Dengan semangat gotong royong, sungai yang dulunya dipenuhi limbah kini menjelma menjadi surga tersembunyi. Pada Februari 2023, Ulu Petanu Waterfall resmi dibuka untuk umum. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan tekad yang kuat dapat mengubah sesuatu yang dianggap tidak berharga menjadi aset luar biasa.

Hasilnya? Kini, air terjun ini mendatangkan sekitar 600-700 wisatawan per hari. Dalam sebulan, jumlah pengunjung bisa mencapai 12.700 orang, dengan harga tiket yang baru saja dinaikkan menjadi Rp30.000 per orang. Desa adat juga menerima kontribusi 15% dari pendapatan total, yang tahun lalu tercatat mencapai sekitar Rp376 juta.

Menjadi Sumber Penghidupan bagi Warga

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Ulu Petanu Waterfall juga menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Desa Kedisan. Saat ini, terdapat 12 karyawan tetap yang bekerja di sana, termasuk beberapa pekerja senior yang tetap diberi kesempatan untuk berkontribusi.

“Kami tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga menjaga nilai sosial. Ada pekerja yang sudah tua, yang mungkin di tempat lain tidak lagi diberi kesempatan, tetapi di sini mereka tetap bisa bekerja, setidaknya untuk menyapu dan menjaga kebersihan,” ujar Dewa Ketut Raka.

Selain itu, desa juga memiliki BUMDes yang mengelola sebagian pendapatan dari destinasi wisata ini. Dana yang terkumpul digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pembangunan fasilitas umum dan dukungan bagi desa adat.


Dewa Ketut Raka masih memiliki banyak mimpi besar untuk desanya. Ia bercita-cita mengembangkan kawasan Ulu Petanu menjadi pusat ekowisata berbasis air. Salah satu rencananya adalah membangun waterboom alami dan mengembangkan trekking wisata yang akan membawa pengunjung lebih dekat dengan keindahan alam Kedisan.

“Sungai itu emas bagi kita. Dengan inovasi yang tepat, kita bisa menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Namun, ia juga menekankan bahwa keberlanjutan wisata berbasis alam harus didukung oleh kebijakan pemerintah. Ia berharap agar Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar dan Provinsi Bali dapat memberikan status resmi bagi Ulu Petanu sebagai destinasi wisata berbasis alam. Dengan demikian, pembangunan di kawasan itu dapat diarahkan agar tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Saya mohon kepada pemerintah, khususnya Bapak Bupati, Bapak Gubernur, serta DPRD, agar dapat membantu kami dalam aspek hukum dan regulasi. Kami ingin memastikan bahwa Ulu Petanu tetap menjadi wisata alam yang lestari, tanpa eksploitasi berlebihan,” tegasnya.

Mengajak Masyarakat untuk Bangkit Bersama

Di penghujung wawancara, Dewa Ketut Raka mengajak seluruh masyarakat Desa Kedisan untuk turut serta dalam membangun daerahnya. Ia menegaskan bahwa kesuksesan desa wisata ini bukan hanya milik pemerintah desa, tetapi juga tanggung jawab bersama.

“Kita harus bangga dengan apa yang sudah kita capai. Yang dulunya tempat ini dianggap tidak berharga, sekarang menjadi sumber kebanggaan dan penghidupan. Jangan hanya puas dengan Ulu Petanu Waterfall. Desa kita masih punya banyak potensi lain, seperti race trekking, jeep tour, dan wisata budaya. Mari kita manfaatkan peluang ini untuk masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Dari tumpukan sampah menjadi destinasi wisata yang mendunia kisah Dewa Ketut Raka dan Ulu Petanu Waterfall adalah bukti bahwa dengan visi, kerja keras, dan kolaborasi, segala sesuatu bisa berubah menjadi lebih baik. Desa Kedisan kini bukan lagi sekadar penonton geliat wisata Ubud, tetapi pemain utama dalam kancah pariwisata Bali. (TimNewsyess)


TAGS :