Tokoh
Dari Painen ke Pemucuk: Dewa Gede Bipatrawan dan Napas Baru LPD Desa Adat Kuning
Sabtu, 05 April 2025
Propil pemucuk lpd Kuning bangli
Bangli, Newsyess.com - Di balik geliat ekonomi lokal Desa Adat Kuning, berdiri sosok bersahaja yang telah mengabdikan diri dengan hati dan jiwa. Dialah Dewa Gede Bipatrawan, S.H., seorang pemucuk yang kini menakhodai LPD Desa Adat Kuning dengan visi luhur dan keberanian menjemput masa depan. Dari jejak sederhana sebagai pegawai painen, kini ia menjadi tumpuan harapan masyarakat adat untuk terus bergerak maju dalam naungan lembaga keuangan desa yang kokoh dan bersinar.
Lelaki yang dididik dalam gemblengan akademik di Universitas Ngurah Rai sejak tahun 2000 ini telah menghabiskan 16 tahun hidupnya di dunia lembaga keuangan, tepatnya di salah satu lembaga pembiayaan terkemuka, Final. Dari sanalah ia digembleng, ditempa dalam kerasnya dunia keuangan, hingga akhirnya terpanggil pulang, bukan sekadar kembali secara fisik, namun kembali untuk mengabdi pada tanah kelahiran, pada adat, dan pada budaya.
Tahun 2019 menjadi titik awal pengabdiannya di LPD. Kala dunia diguncang pandemi, ia justru memilih pulang dan menanamkan ilmu serta pengalaman ke dalam tanah desa. Banyak yang tak menyangka, lembaga kecil dengan aset hanya beberapa miliar saat itu bisa tumbuh menjadi lembaga tangguh dengan aset kini mencapai Rp8 miliar. Di tangannya, LPD bukan hanya tempat menyimpan uang, tapi rumah gotong royong, wadah keberdayaan, dan pelita bagi ekonomi adat.
Risiko adalah Jalan Hidup
“Kalau tidak berani ambil risiko, jangan bermimpi membangun,” begitu kalimat yang sering ia ulang. Di tangannya, risiko bukan ancaman, melainkan jalan pengabdian. Bagi Bipatrawan, LPD bukan hanya tempat bekerja, tapi tempat ia menaruh harapan, menyalakan semangat muda, dan membuktikan bahwa lembaga tradisional pun bisa modern, tertata, dan terpercaya.
Sistem yang ia bangun kini memperhatikan banyak aspek: karakter nasabah, jaminan kredit, hingga pola pelunasan yang adil. Di tengah persaingan dengan koperasi, BPR, dan lembaga formal lainnya, ia justru menjadikan kepercayaan sebagai fondasi utama. “Kalau masyarakat sudah percaya, mereka tidak ragu mendepositokan dana. Mereka merasa dana itu akan kembali sebagai manfaat, bukan sekadar angka,” tuturnya.
Kontribusi Nyata untuk Desa Adat
LPD Kuning di bawah komandonya bukan sekadar tempat simpan pinjam. LPD ini telah menyuntikkan dana hingga Rp70 juta setiap tahunnya untuk mendukung pembangunan, subsidi upacara adat, hingga kebutuhan sosial masyarakat. Jumlah yang luar biasa, yang jika tanpa LPD, akan menjadi beban berat bagi setiap kepala keluarga.
Kini, masyarakat tak lagi membayar kewajiban adat setiap 6 bulan, melainkan bisa diperpanjang menjadi 9 bulan. Bahkan dalam berbagai kesempatan, biaya upacara dan pembangunan dapat disubsidi hingga separuhnya. “Kalau tidak ada LPD, dari mana kita cari uang segitu banyak?” tanyanya retoris.
Mewariskan Semangat, Bukan Hanya Struktur
Lebih dari sekadar mengelola, Bipatrawan tengah menyiapkan estafet generasi. Ia menyadari bahwa LPD bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk anak cucu. Ia optimis bahwa dengan semangat kolektif, kepercayaan, dan transparansi, LPD Kuning akan menjadi benteng ekonomi adat yang tak lekang oleh zaman.
Baginya, mengelola LPD adalah memuliakan desa. “Kami tidak mencari untung besar. Kami ingin agar krama merasakan manfaatnya langsung. Inilah pengabdian kami, inilah wujud baktinya LPD untuk adat,” ujarnya menutup pembicaraan dengan senyum penuh keyakinan.
Di tangan Bipatrawan, LPD bukan sekadar lembaga, tapi jiwa yang terus bernapas demi kesejahteraan umat. (TimNewsyess)
TAGS :