Tokoh
I Dewa Ketut Suparta: Dari Gang Elang Hingga Mengelola Aset Rp20 Miliar, Perjalanan Inspiratif Ketua KSP Elang Sedana Amertha
Selasa, 25 Februari 2025
Propil elang sedana Amartha
Gianyar, Newsyess.com – I Dewa Ketut Suparta, SE, Ketua KSP Elang Sedana Amertha, telah menorehkan kisah inspiratif dari masa-masa sederhana di Gang Elang hingga kini memimpin koperasi dengan aset senilai Rp 20 miliar. Dalam wawancara eksklusif di kantor koperasi, Suparta menceritakan bagaimana ia bersama 81 pendiri—yang sebagian besar berasal dari lingkungan Gang Elang dan keluarga dekat—membangun fondasi koperasi sebagai wadah simpan pinjam yang melayani UMKM dan masyarakat menengah ke bawah.
Awal yang Sederhana dan Semangat Kebersamaan
“Awalnya, kami berkumpul di Gang Elang bersama sahabat-sahabat dan keluarga. Ada 81 orang yang menjadi pendiri, dengan sekitar 50 persen di antaranya berasal dari lingkungan Gang Elang dan sisanya dari keluarga,” ungkap I Dewa Ketut Suparta.
Ia mengenang masa-masa awal yang penuh keterbatasan: “Kami memulai dengan setoran awal , yakni sekitar Rp5 juta. Di saat itu, kepercayaan sangatlah penting—sulit meyakinkan orang untuk menyerahkan uangnya, tetapi dengan semangat gotong royong dan dukungan dari sesama, kami berhasil membentuk koperasi yang solid.”
Peran Pengalaman di Dunia Perbankan
Suparta menyatakan bahwa latar belakangnya selama 24 tahun bekerja di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) memberikan bekal yang sangat berguna dalam mengelola koperasi.
“Ilmu keuangan yang saya dapatkan di BPR sangat membantu. Meskipun cara pengelolaan di koperasi dan BPR tidak sepenuhnya sama, prinsip dasar keuangan—seperti pengelolaan modal, manajemen risiko, dan perhitungan capital adequacy ratio—sangat relevan. Di BPR, modal minimal hanya 12%, sedangkan di koperasi kita tetapkan minimal 20 hingga 40% agar lebih fleksibel dan berbobot,” jelasnya.
Strategi Penguatan Modal dan Kepercayaan Anggota
Menurut Suparta, modal koperasi saat ini tercatat sekitar Rp 3,5 miliar, yang masih berada di bawah target ideal yang seharusnya mencapai sekitar Rp 4 miliar. Hingga 500 juta untuk memperkuat modal. Kami menetapkan simpanan anggota yang sangat terjangkau, misalnya simpanan pokok yang hanya 50 ribu ditambah simpanan wajib sebesar 180 ribu per tahun, agar semua kalangan, termasuk yang tidak memiliki banyak dana, dapat bergabung,” terangnya.
Keberhasilan koperasi tidak lepas dari kepercayaan yang terus tumbuh. “Saat ini, hampir 90 persen dana yang masuk berasal dari simpanan masyarakat. Kami merasa bangga karena koperasi ini berhasil menangkul anggota seperti keluarga. Hubungan antar anggota sangat dekat, dan itulah yang membuat kami lebih senang dibandingkan dengan lingkungan perbankan konvensional,” ujar Suparta dengan penuh keyakinan.
Inovasi dan Upaya Menarik Generasi Muda
Menyikapi tantangan zaman yang semakin digital, Suparta menekankan pentingnya inovasi dalam pengelolaan koperasi. “Kita harus mengikuti perkembangan teknologi. Kami sedang merencanakan sistem digital yang akan memudahkan transaksi online, serta mengoptimalkan media sosial seperti TikTok dan Instagram untuk merekrut dan mengedukasi generasi muda,” katanya.
Menurutnya, keberadaan anak muda di kepengurusan merupakan energi baru yang sangat penting untuk regenerasi koperasi. “Kami telah melibatkan pengurus muda di bawah usia 30 tahun, yang membawa semangat dan ide-ide segar. Dengan begitu, koperasi ini tidak hanya mempertahankan nilai tradisional, tetapi juga siap berinovasi dan berkembang ke depannya,” tambahnya.
Menatap Masa Depan dengan Harapan dan Komitmen
Dalam pandangannya, keberhasilan koperasi adalah hasil dari kerja keras, kejujuran, dan semangat kebersamaan. “Koperasi adalah lembaga yang ringan dan fleksibel. Keuntungan yang dihasilkan kami kembalikan kepada anggota, yang membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk simpan pinjam. Walaupun pendapatan yang dihasilkan tidak sebesar di sektor perbankan, kami mendapatkan kepuasan karena bisa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Suparta menutup dengan pesan inspiratif bagi generasi penerus, “Jangan pernah melupakan akar kita. Kerja keras, kejujuran, dan gotong royong adalah kunci. Semoga dengan inovasi dan semangat muda, koperasi kita akan terus tumbuh dan menjadi pilar kemajuan ekonomi desa. Ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama.”
Profil I Dewa Ketut Suparta adalah cermin dari perjalanan luar biasa, dari masa-masa awal yang sederhana di Gang Elang hingga mengelola aset senilai Rp20 miliar. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan tekad dan kerja sama, mimpi besar dapat diwujudkan untuk kesejahteraan masyarakat desa. (TimNewsyess)
TAGS :