Desa Adat

Kreativitas Remaja Banjar Teges Kanginan Membuat Ogoh-Ogoh Ramah Lingkungan, Terbuat dari Kulit Bawang

 Senin, 24 Maret 2025

Ogoh-ogoh yang dibuat remaja Teges Kanginan, Peliatan, ini menggunakan kulit bawang.

Newsyess.com, Gianyar. 

Sekaa Teruna (ST) Purwa Jati Kumara Gana, Banjar Teges Kanginan, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, kembali menunjukkan kreativitas luar biasa dalam pembuatan ogoh-ogoh untuk perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini. Dengan melibatkan sekitar 140 anggota, mereka mengusung tema Warsaparwa untuk ogoh-ogoh yang akan dinilai dalam lomba pada 22 Maret 2025 pukul 10.00 Wita, dan diarak pada 28 Maret 2025, tepat saat Hari Pengerupukan.

Yang membuat ogoh-ogoh ini berbeda adalah penggunaan bahan-bahan alami dan ramah lingkungan. Untuk menciptakan karya seni yang memukau, mereka mengandalkan bahan seperti kulit bawang merah dan bawang bombai sebanyak 60 kg, yang setelah dikeringkan menyusut menjadi 30 kg. Selain itu, mereka juga menggunakan daun talas, kulit jagung, serta berbagai material alami lainnya. Penggunaan bahan-bahan organik ini menunjukkan betapa ST Purwa Jati Kumara Gana tidak hanya berfokus pada estetik, tetapi juga peduli terhadap kelestarian lingkungan.

I Wayan Gede Sandiyoga, perwakilan dari ST Purwa Jati Kumara Gana, menjelaskan bahwa penggunaan bahan ramah lingkungan ini bukan hanya tantangan dan inovasi baru, tetapi juga bentuk kepatuhan terhadap peraturan pemerintah yang mengarahkan agar ogoh-ogoh dibuat lebih ramah lingkungan. Faktor pendanaan dan komitmen terhadap penggunaan material alami juga menjadi alasan utama di balik pilihan ini. "Kami mendapatkan bahan-bahan tersebut dari berbagai restoran di sekitar Ubud," ujarnya.

Proses pembuatan ogoh-ogoh ini dimulai sejak 14 Januari 2025, ditandai dengan upacara nuasen karya. Hingga kini, pengerjaan telah berlangsung lebih dari dua bulan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah pemasangan kulit bawang merah, yang harus dilakukan satu per satu dengan teliti. "Proses ini cukup membosankan dan memakan waktu lama," tambah Sandiyoga.

Selain itu, ada pula kesulitan dalam bagian ogoh-ogoh yang menggunakan modul mesin, terutama di area bunga yang dihiasi figur Brahmana. Karena keterbatasan pengalaman di bidang mesin, penyetelan bagian tersebut sempat mengalami kendala.

Baca juga:
83 Ogoh-ogoh Ramaikan Pawai Ogoh-ogoh Anak Usia Dini di Jembrana.

Namun, dengan persiapan yang matang dan semangat yang tinggi, ST Purwa Jati Kumara Gana sangat optimis bisa menampilkan ogoh-ogoh terbaik. "Kami berharap karya ini bisa menginspirasi komunitas lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan, serta tetap melestarikan tradisi dengan cara yang lebih inovatif," pungkas Sandiyoga.

Ogoh-ogoh ini tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana seni dapat berperan dalam menjaga kelestarian alam. Dengan semangat kreativitas dan keberlanjutan, ST Purwa Jati Kumara Gana menunjukkan bahwa inovasi dan budaya dapat berjalan seiring untuk masa depan yang lebih baik.

 


TAGS :