Tokoh

Pamerajan Agung Puri Ageng Nyalian: Napak Pertiwi Menyatukan Spirit Keagungan dan Sakralitas

 Jumat, 24 Januari 2025

Puri Ageng Nyalian klungkung

Newsyess.com, Klungkung. 

 

KLUNGKUNG | Newsyess.com – Dalam rangkaian upacara besar yang sarat makna spiritual dan tradisi, Pamerajan Agung Puri Ageng Nyalian akan menyelenggarakan acara bertajuk “Napak Pertiwi”, yang menjadi momentum penting dalam memperkokoh keagungan tradisi dan nilai-nilai sakral desa adat. Acara ini akan digelar pada Rabu, 29 Januari 2025, pukul 19.00 WITA, bertempat di Jaba Pamerajan Agung Puri Ageng Nyalian, Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Rangkaian Acara Sakral

Upacara “Napak Pertiwi” menjadi bagian dari Pujawali Ida Sesuhunan Merajan Agung. Dalam momen sakral ini, Ida Sesuhunan Merajan Agung akan mesolah atau melaksanakan ritual penting sebagai wujud penyucian dan penghormatan terhadap alam semesta. Selanjutnya, Ida Bhatara akan dikaturkan penyambleh (upacara persembahan) di Perematan Agung Desa Adat Nyalian.

Yang istimewa, acara ini juga akan dimeriahkan oleh sesolahan pingit Baristentra (tarian sakral baris tentera), yang menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual suci ini. Selain itu, Ratu Sang Hyang Lembu Nandaka dan Nandini akan melakukan prosesi mesiram ring gni (ritual penyucian melalui api), sebuah simbol pembaruan energi spiritual.

Rangkaian upacara ini tidak hanya melibatkan keluarga besar Puri Ageng Nyalian, tetapi juga seluruh krama Desa Adat Nyalian yang turut serta menjaga keagungan tradisi ini.

Cokorda Gede Brasika Putra: Harmoni antara Tradisi dan Spiritualitas

Dalam perannya sebagai Bendesa Adat Nyalian, Cokorda Gede Brasika Putra, SH., yang juga merupakan Bandesa Alitan MDA Kecamatan Banjarangkan serta Ketua Umum Forgas Indonesia, menjelaskan makna mendalam dari upacara ini.

“Napak Pertiwi adalah wujud syukur dan penghormatan kami kepada alam semesta serta leluhur yang telah memberikan berkah kehidupan. Ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga cara kami menyelaraskan diri dengan spiritualitas dan menjaga keseimbangan semesta,” ujar Cokorda Gede Brasika Putra.

Ia juga menambahkan bahwa acara ini menjadi momen penting untuk mempererat persatuan dan gotong royong antar-krama desa. “Melalui acara ini, seluruh krama Desa Nyalian dapat bersama-sama merasakan kebersamaan dan semangat menjaga warisan leluhur,” imbuhnya.

Makna Siuratri dan Yoga Penyucian

Sebelum puncak acara pada 29 Januari, rangkaian upacara telah dimulai sejak Senin, 27 Januari 2025, dengan pelaksanaan Siuratri sebagai bentuk persiapan spiritual. Prosesi Siuratri ini menjadi landasan penting dalam memastikan seluruh tahapan upacara berjalan dengan khidmat.

Menurut Cokorda Gede Brasika Putra, prosesi budal mawali (perjalanan Ida Sesuhunan kembali ke Pamerajan Agung) harus dilakukan dengan penuh keharmonisan, didukung oleh yoga peyogaan Siuratri, yaitu sikap batin yang tulus dan suci.

“Ritual ini adalah perjalanan spiritual yang melibatkan seluruh elemen desa, termasuk para pemangku, prajuru, dan masyarakat desa. Semua terlibat dalam upaya menjaga kesucian tradisi,” jelasnya.

Melibatkan Seluruh Krama Desa Nyalian

Dalam Napak Pertiwi, seluruh krama desa akan berperan aktif, baik dalam bentuk dukungan fisik maupun spiritual. Ritual ini mencerminkan betapa tradisi dan adat istiadat menjadi roh yang menghidupkan Desa Adat Nyalian.

“Setiap elemen masyarakat memiliki perannya masing-masing dalam ritual ini. Mulai dari mempersiapkan upacara hingga menjaga kesakralan prosesi, semua dilakukan dengan semangat gotong royong,” tambah Cokorda Gede Brasika Putra.

Pesan Sakral dan Harapan

“Napak Pertiwi” tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas. Ratu Sang Hyang Lembu Nandaka dan Nandini, dalam prosesi mesiram ring gni, menjadi simbol pemurnian diri dan pembaruan energi yang mengajak kita semua untuk kembali pada kesadaran akan harmoni dengan alam.

Melalui pelaksanaan Napak Pertiwi, Desa Adat Nyalian kembali menegaskan pentingnya menjaga tradisi leluhur sebagai warisan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Semoga acara ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menjaga adat dan tradisi, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur dan alam semesta,” tutup Cokorda Gede Brasika Putra.

Akhir Kata

Pamerajan Agung Puri Ageng Nyalian melalui acara Napak Pertiwi telah memberikan kita pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan modern. Semoga semangat ini terus hidup dan menyala di hati setiap generasi penerus Desa Adat Nyalian. (TimNewsyess)


TAGS :