Tokoh
Seniman Topeng dan Wayang, Ngakan Karsa Wijaya Warisan darah Seni 4 Generasi
Senin, 16 Mei 2022
Desa Pacung Gianyar
Seniman Topeng dan Wayang, Ngakan Karsa Wijaya Warisi Darah Seni 4 Generasi
Gianyar, Newsyess.com - Seniman topeng dan wayang, Ngakan Made Karsa Wijaya asal Banjar Pacung, Kelurahan Bitra merupakan generasi ke-4 keluarga seniman. Ditemui Newsyess.com di kediamannya di Jalan Sawo gang Anggrek II Nomor 21 Gianyar, Ngakan Karsa Wijaya menceritakan kisahnya memulai berkesenian sejak tahun 1995 silam. “Saya tamat SMA 1989. Sempat merantau, lalu di rumah mencari pengalaman, jadi tahun 1995 sudah mulai mencoba di pura,” kenangnya.
Dari mencoba menari di pura, akhirnya mulai ada yang mencari untuk meminta jasanya. “Terus ada yang mencari. Dulu pernah merasakan laris. Kadang pagi nopeng, siang, malam,” ujarnya.
Selain topeng, dirinya juga bisa. “Ini panggilan niskala. Karena sudah menjalani terus, menjadi hobi,” ujarnya.
Katakanlah ketika luas mewayang ke Karangasem, dapat refreshing. “Rokok, kopi dapat, macam-macam dapat, apalagi lihat orang banyak, dapat juga. Kan menjadi hobi,” ujarnya.
Disamping menjalankan hobi, juga dicari oleh beberapa orang untuk belajar. “Sudah biasa banyak yang mengajarkan. Contoh nyata di Suwat ada yang bisa ngender, disini belajar. Memang dia orang konsisten, tiap hari belajar, tetap datang selama 6 bulan,” jelasnya.
Selama berkutat di dunia seni wayang dan topeng, banyak suka dilalui. “Itu tidak cukup dikatakan,” ujarnya.
Adapun sukanya, merasa bangga mengikuti perintah leluhur. “Care raos leluhur, sing kal mekenta. Bisa membuat rumah, anak sukses. Anak pertama tentara, kedua kuliah Sastra Jepang di Undiksa. Itu kebanggaan,” ujarnya.
Bahkan banyak teman diperoleh. “Teman elit punya. Misalnya dekat bupati, dekat dengan lurah, Kelian semua tahu. Sebab yang nyari wayang kan keluhan,” ujarnya.
Jam terbang menari sampai ke Lombok, Nusa Penida, Pura Semeru di Jawa Timur. “Kalau di Bali, tidak perlu dibilang, dari Karangasem dan lainnya,” ujarnya.
Mengenai dukanya banyak sekali. “Baru jadi dalang, tukang gender jaman lama, itu termasuk tahun lama, tukang gender sudah disuruh jam tujuh, ternyata tidak datang, padahal motor yang nyemput sudah datang. Di rumah tidak ada, ternyata masih di sawah, itu dukanya,” ujarnya.
Kemudian di Palak Tiying Bangli ngewayang, saat itu jalannya tidak sebagus sekarang. “Jalan geladak geluduk, nyorog motor,” ujarnya.
Lalu saat pentas dibuatkan tingga. “Nyeh atie gaene tingga. Nyen jani bale Banjar bagus,” ujarnya.
Adalagi orang meminton secara sekala. “Orang tidak tahu, damar dikasih lengis bekas mebat, sigin damar dulu kapas, sekarang sigin kompor dipakai kadang sigin kompor sekarang plastik, dikira ada yang mintonin, ternyata plastik tidak bisa hidup, itu di Angkling,” ujarnya.
Selain itu, tukang tutut, bisa dijatuhkan. “Akhirnya belah,” ujarnya.
Saat ini, minat generasi muda banyak yang belajar. “Cuma belajar tidak seperti dulu. Kalau dulu memang menjadi seniman,” ujarnya.
Namun saat ini belajar langsung pentas. “Banyak contoh, biar dapat pentas. Kalau belajar wayang, harus bisa ngender, bisa buat wayang, mekawin, nulis lontar,” ujarnya.
Sebab apa, ketika membaca lontar, ketika lontar ada kerusakan, otomatis harus bisa menulis. “Juga kalau main wayang, pas Wayan rusak, kan harus bisa membenahi wayang,” terangnya.
Saat ini, background kurang. “Dasar, pondasi kurang. Instan. Sekarang 6 bulan berani pentas, apalagi dapat pelajaran di ISI, walaupun topeng belum, tapi tari topeng lepas sudah bisa, akhirnya sudah pentas,” ujarnya.
Dikatakan saat ini, pregina topeng, bondres dan arja, banyak dituntut vokal. “Igel memang dituntut, tapi tidak begitu banyak. Igel sedikit, contoh penasar, vokal dituntut. Menuntut krakah agar bisa mengeluarkan tutur, banyol,” jelasnya.
Saat ini, tutur banyak yang melek namun harus berdasarkan lontar ini. “Kalau dulu misalnya gak boleh duduk di bantal, sekarang harus ada alasannya,” ujarnya.
Untuk penghasilan, memperoleh Rp 300 ribu sekali pentas. Masa keemasan pada tahun 2000. “Sehari bisa pentas 10 kali, sehari Rp 3 juta,” ujarnya.
Namun saat ini banyak seniman. “Yang baru belajar juga ingin ikut ngayah. Itu kan tergantung Kelian,” ujarnya.
Meski banyak seniman muncul, tetap mempertahankan taksu. “Taksu adalah pican Ida Batara. Biarkan beliau mengatur,” ujarnya.
Taksu adalah memang dicari oleh orang. “Kalau sekarang, baru laris itu dibilang metaksu. Padahal laris karena promosi. Kalau dulu tanpa promosi, memang bagus pementasannya,” ujarnya.
Namun meski bertaksu dan laris, bukan berarti terus dicari. “Bisa tiga bulan baru ada Ngewayang. Namun tetap langgeng. Kecuali mati baru selesai,” ujarnya.
Pesan kepada anak muda, untuk menjaga pakem. “Harus dipegang erat. Pakai pakem kita. Misalnya ngewayang ngender, ngigel, mekekawin. Kenapa begitu, kalau mekekawin di wayang ada bahasa Kawi. Kalau tidak tahu mekawin, banyak cerita misalnya Bharata Yuda pakai bahasa Kawi,” ungkapnya.
Kalau tidak belajar bisa saja. “Namun kurang. Begitu juga ngender,” jelasnya.
Dikatakan lebih lanjut, dirinya akan ngayah hingga napas terakhir. “Selama masih mampu. Sampai napas terakhir,” tutupnya. (Yess)
TAGS :