Desa Adat

Serati Desa Adat Batuyang: Inovasi Kemandirian dan Pelestarian Tradisi

 Kamis, 03 April 2025

Serati Desa Adat Batuyang: Inovasi Kemandirian dan Pelestarian Tradisi

Newsyess.com, Gianyar. 

 

Gianyar | Newsyess.com - 3 April 2025 – Desa Adat Batuyang kembali menorehkan prestasi dalam upaya kemandirian dan pelestarian budaya. Melalui pembentukan Serati atau kelompok tukang banten yang telah beroperasi selama tujuh bulan, masyarakat desa kini semakin dimudahkan dalam berbagai upacara adat. Keberadaan Serati ini juga menjadi contoh inovasi yang dapat menginspirasi desa adat lain di Bali untuk lebih mandiri dalam bidang ekonomi dan budaya.

Jro Bendesa Adat Batuyang, Guru Made Sukarta, dalam wawancara dengan Newsyess menegaskan bahwa keberadaan Serati ini membawa banyak manfaat bagi masyarakat adat. "Ini adalah bentuk nyata dari konsep ‘oleh krama, untuk krama’. Dengan adanya Serati, masyarakat tidak perlu lagi mencari jasa serupa dari luar desa, yang tentunya akan lebih efisien baik dari segi biaya maupun keberlangsungan ekonomi desa itu sendiri," ujar Jro Bendesa.

Mewujudkan Kemandirian Desa Adat

Jro Bendesa menekankan bahwa program ini sejalan dengan semangat Trisakti Bung Karno, khususnya dalam aspek berdikari di bidang ekonomi dan budaya. "Desa adat harus mampu menciptakan inovasi yang menjadikan mereka mandiri, tidak hanya dalam aspek ekonomi tetapi juga dalam menjaga tradisi. Dengan adanya Serati ini, kami ingin membangun desa yang profesional dan mandiri," jelasnya.

Salah satu alasan pembentukan Serati adalah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat adat terhadap jasa dari luar desa. Sebelum adanya Serati, masyarakat harus menggunakan jasa serupa dari luar desa, yang berarti dana yang keluar dari desa cukup besar. Dengan adanya Serati di bawah naungan Baga Usaha Pembangunan Desa Batuyang, kini perekonomian desa dapat terus berkembang dengan sirkulasi dana yang tetap berada di dalam desa.

Menyerap Tenaga Kerja dan Meningkatkan Kesejahteraan

Serati Desa Adat Batuyang telah berhasil menyerap tenaga kerja lokal, dengan 16 orang yang telah bergabung dalam kelompok ini. Mereka bertugas dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari menyiapkan banten, membantu upacara odalan, hingga layanan kremasi adat yang semakin diminati oleh masyarakat.

"Kami melihat tren bahwa semakin banyak masyarakat yang memilih prosesi kremasi dibandingkan pemakaman konvensional. Ini juga sejalan dengan upaya efisiensi ruang dan pelestarian lingkungan. Selain itu, biaya yang dikeluarkan juga lebih terjangkau dibandingkan dengan kremasi di tempat lain," kata Jro Bendesa.

Program Inovatif: Kremasi Adat yang Lebih Terjangkau

Salah satu program unggulan yang dikelola oleh Serati adalah layanan kremasi adat yang lebih terjangkau dan efisien. Biaya kremasi di Serati Desa Adat Batuyang hanya sekitar Rp 4 juta, jauh lebih rendah dibandingkan biaya kremasi di tempat lain yang bisa mencapai belasan juta rupiah.

"Kami ingin memberikan solusi kepada masyarakat adat agar mereka tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk prosesi kremasi. Dengan sistem yang lebih terstruktur dan transparan, kami memastikan bahwa prosesi ini tetap sesuai dengan adat dan budaya Hindu," jelasnya.

Jro Bendesa juga menambahkan bahwa program ini telah berjalan dengan baik dan mendapat banyak apresiasi dari masyarakat. Hingga saat ini, sudah banyak warga yang memanfaatkan layanan kremasi adat ini, yang juga membantu desa dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Menjadi Contoh bagi Desa Adat Lain di Bali

Keberhasilan program Serati Desa Adat Batuyang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa adat lain di Bali untuk menciptakan inovasi serupa. Jro Bendesa menegaskan bahwa desa adat harus berani melakukan terobosan untuk mencapai kemandirian.

"Kita harus berpikir maju. Desa adat tidak boleh hanya bergantung pada sistem lama, tetapi harus berinovasi agar tetap relevan di era modern ini. Serati adalah contoh nyata bahwa desa adat bisa mandiri dan tetap menjaga tradisi tanpa kehilangan jati dirinya," ungkapnya.

Dengan adanya program seperti Serati, Desa Adat Batuyang semakin kokoh sebagai desa yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing. Ke depan, diharapkan lebih banyak desa adat di Bali yang mengadopsi konsep serupa, demi kesejahteraan bersama dan pelestarian budaya yang berkelanjutan. (TimNewsyess)


TAGS :